Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2007

Pulang Padamu

Terjerat pada basah rambutmu
Pada bulir bening matamu

Jatuh pada aroma tubuhmu
Pada mabuk kisahmu

Tunggu aku
Setelah senja

Di malam penuh serapah
Berbagi peluh di tubuh bisu

Pada rindu yang teramat pekat

Macul, 29 Nov 07

Ruang AbuAbu

Setahun yang lalu masih nampak sama
Dinding buram mengelupaskan kenangan
Jendela kecil yang hembus lebat angan
Dengan laba laba merah di tiap sudutnya

Udara begitu pengap
Masih sama seperti dulu
Meretaskan sesak dada

Namun sunyi dan sepi
Inilah yang merinduku tengadah
Dengan atap atap yang menyeringai

Masih hitam ataupun putih
Sama sama tak saling tahu
Bersingkuran menjadi bayang kelabu

Ruangan itu
Menikmatiku

Demikianpun
Aku


01.32 22Nov07

Malam Yang Terasing

Sepanjang lagak yang menderu di atas pentas
Mata mata juling yang lengah terkesiap
Ia menyeruak diantara bayang penggila senyap

Tawanya menggelegar bak deru mesiu di tengah ladang perang
Ia hinggap diantara kap kap besi
Mendiami tong tong yang kosong

Lelah langit meredup menunduk hormat

Entah siapa bisa menahan gelak
Tak juga latar latar musik yang bosan didengar
Atau gerak gerak pantomim bisu yang kaku

Tak juga raja atau peri yang mabuk
Pada gendongan malam yang terasing

Malam Itu

Pada selembar koran minggu yang lelah dibaca

Pada asap rokok yang bumbung di depan mata

Pada lagu yang puluhan kali diputar

Pada malam riuh yang sombong dikecap

Pada sorot lampu yang menggeliat di tubuh Cupak


Kepala kepala mendesing peluru

Mata Mata mengadu menjadi resah

Tawa tawa menyerbak secuil kisah

Tiba tiba limbung terasa ngilu


: Beku


Kamar, 12 Nov07
* pada malam yang teramat asing

Hanya Sajak Sinis

Sepanjang kali brantas
Direncanakan bebas tugas

Apanya yang disebut tuntas
Disana Si gepeng masih sibuk mengais tangis

"Tuntas" hanya sebatas label sedot WC

Lagi lagi tak ada ucapan lunas
Taman taman pongah berdiri
Lampu lampu samar memicing
Wajah wajah menor mulai berhias

Dari Taman Prestasi
Sampai bendungan Jagir
atau mungkin sampai pesisir

Dijadikan lahan baru paling mantap
Para "oknum" pejabat biadap

Macul, 11 Nov 07
oalah suroboyo suroboyo.... nasibmu kini....

Seorang Pertapa yang Sibuk Pada Puisi

Pada tidur yang teramat panjang di tepi danau
Puisi menggelitik di ujung kaki yang menyemut

Dilelahnya waktu sekumpulan angin liar
menggugah pertapaannya

Tubuh ringkih dilahap bulan dan matahari
Kepalanya ladang kertas yang subur

Kabut gigilkan suhu di bawah 4 derajat
Pertapa khusuk menyelimuti kata

Selamatkan puisi yang paling sakti

Entah sampai dimana kata katanya terhenti
Mungkin pada perdu yang mulai merayap ditubuhnya
Atau pada rindu yang tak pernah Ia tahu mulai beku

Macul, 11 November 2007

Menuju Lembah

Merah menjadi syarat mata mata nanah
Yang sibuk menyebut Tuhan
Atas kosong yang kerontang
Dalam dada, otak, dan lambung

Sedangkan putih menjadi tanda
Atas luka luka darah
Yang semburkan asap tebal
Di hamparan landai tanah

Lembah amarah