Selalu ada jalan menuju pulang

Berliatan jejak menuju entah
Tersesat di ruang bayang bayang
Bersembunyi dari terik
Kemudian berlari sambil mencaci

Jalanan besar dengan beriburibu mata kaki
Raksasa besi beroda-roda besar melintasi
Tak ada petunjuk kembali pulang
Hanya papan petunjuk yang begitu kusam

Masa berlalu sedemikan larut
Lampu jalan setia di sepanjang perjalanan
Masih tak juga bertemu penunjuk pulang
Sedangkan angan begitu letih

Diam menunggu dipersimpangan
Ke arah kiri, rapat
Ke arah kanan, padat


Kebetulan tak datang berkali-kali
Klakson mendera dari kejauhan
Membawa lari banyak kenangan
Hingga tercecer di jalanan
Ikut berlari hingga ku temukan jejak

:Menuju arah pulang

Surabaya, 29 sept 2017

....................

Bagaimana bisa aku bercakap-cakap
sedangkan ruangan ini begitu kecil
dan kau melayang-layang di luar sana

Bagaimana aku membagi cerita
Sedangkan kau bersedekap
tersenyum dan tetap berdiam

Bagaimana berguru, bertanya, atau sekedar bersapa
Karena aku hanya punya secuil kenangan
Lelucon yang giris, ilmu yang tipis
Bagaimana aku menahan tangis
Perjalananmu sudah lama terhenti
Dan apa yang kau sisakan
Tak juga menjadi jalanku

Sby, 30 Mei 2017
utk Guru, Kawan, Kakak, yang tak pernah lelah berada di medan laga.
30 Mei 2017, alm. Fahrudin Nasrulloh

Wi.. Semua tentang sebuah Tanda

Wi..
aku biarkan jengkal jarimu
hitungi bias luka sukaku

Wi..
Ada juga sisa jejak darah
petualang bengal
juga suara parau bibir resah

Aku biarkan kau mandikan tubuhku
dengan uap aroma malam
Hingga aku jenak memuara
di matamu yang sepi

Wi..
ada detak berlarian di halaman rumah tepiku
ketika kau melempar ranting pohon mangga

Dan keesokan pagi kutemukan tetes embun
                                      berwarna biru rindu
Di jendela rumahku

secuil tandaMu kah itu?

Selalu ada jalan menuju pulang

Berliatan jejak menuju entah Tersesat di ruang bayang bayang Bersembunyi dari terik Kemudian berlari sambil mencaci Jalanan besar dengan be...