Kau sempat tuliskan janji di selembar tissue
Lantas diselipkan di bawah segelas es limun
Sebelum pergimu yang lalu
Basah.. memendar tinta pudar
Dadamu lambung matamu cembung
Apa yang bisa ku baca selain gurat punggungmu
Dan sisa tangis yang menggantung di helai-helai rambutku
Di lembar tissue yang membubur
: Tersisa aku saja
Sby, 8 Juli 2009
Wednesday, July 08, 2009
Janji di Selembar Tissue
Saturday, July 04, 2009
Tidur di Lipatan Sepi
Aku punya sepi yang disimpan di balik lipatan baju
Nanti ketika musim dingin ia akan menghangat sendiri
Kupakai sebagai jaket penahan rindu
Aku ingin hujan yang ditadah tempurung kepala
Nanti jika tiba musim pesta akan kutuang
Di gelas-gelas berwarna perak
Hingga tetatamu lupa mencaci
Hidangan hampir basi dan karpet bau busuk
Sungguh
Aku ingin tidur di lipatan sepi
Sampai basah hujan kepalaku
Sucikan diri
Memeluk sayap malaikat
Sby, Juli 2009
Saturday, May 16, 2009
Benahi Mimpi
Inginnya aku mampir melipir di tepi pembaringanmu
Lantas petik satu satu butir liur yang dibuahi lelap
Menebas kutu di atas bantalmu, benahi mimpi
Tata ulang aku dalam memorimu
Tentang
Perempuan berwajah kusam dengan mata sembab
Bukan tersebab tangis tapi susuk pecahan kaca
Yang terselip di sudut mata
Inginnya aku merapikan seprai kasur kapuk
Penuh tinggi, ada yang kusut di kisah-kisah tidurmu
Samarkan mimpi hingga celah lelah terburai
Tentang
Kisah kita yang tak juga selesai, hari tanpa pagi dan siang
Dua puluh empat jam adalah malam. bukan karena matahari jengah
Tapi bulan begitu kuat menggagahimu di tiap detik
Sby,17 Mei 2009
Catatan di sebuah peti
Lembar pertama,
Ketika tiba hari dibaringkan
ditutupnya peti, taburan bunga-bunga
Air mata-mata air tertinggal
Menjadi kubangan berjentik-jentik
Lembar kedua,
Kertas basah, pudaran kabut samar-samar luka
Isak sesak dada berserak serat cerita lama
Simpan kado kecil berpita ungu
Nisan tanpa prasasti janji
Lembar ketiga,
Di sinilah rimba tanpa desir, hanya silir lirih kata-kata
Tak juga ada berisik gesek-gesek daun
Hanya lenguh hujan do'a kecil
Dibisik-bisik sajak yang tak bertelinga
Sby, 16 mei 2009
Sunday, May 03, 2009
Labirin
kita memutarinya diruas-ruas yang berbeda
jumpai rutukan pada jalur buntu
coreti dinding
memaki tak jengah ludah
sudah
kita memang berada pada lingkar yang sama
putari sesat berulang kali, saling menyusupi luka
hingga lelah mengaduk serak
langkah
3 mei 2009
Saturday, April 25, 2009
Ceruk Cerita yang Dalam
Kita seperti anjing lapar
Berkejaran di malam jalang
Saling mencaci di tengah laga
Tapi rindu berpeluk manja
Kita seperti luka yang merana
Punguti penggal tubuh yang terberai
Lantas dirangkai pada malam buta
Berbenang serat urat rotan
----Lecut melucuti
Kita seperti periuk belanga
Cadas ditempa kobar bara
Berangus hitam coreng muka muram
Tubuh kita ringkih lari telanjang
Terbuai peluh resah dan desah
Kita seperti hujan gersang
----Hampa dan basah
Tangisi ceruk cerita yang dalam
Jatuh tak berjeda, terjal
Sby, 25 April 2009
Saturday, April 18, 2009
Nada Itu Meluruhkan
: Balawan
Seketika kata-kata berguguran
Dan decak pada nada
Petikan senar gitar
Gemulai jemari yang lintas
Menyetubuhi fret-fret mati
Berdenyit.. berderit...
Untai manik-manik tanpa lirik
Mengguruiku
Tak cepat jatuh pada kata
Biarkan saja kata menubuh sendiri
Geliat gundah suguhkan puisi
Pada nyanyian "putri cening ayu"
Akh..
Lagu yang tak lugu
Manis berbalut rindu
Sby, 19 April 2009
Menjumput Ritme Seusai Senja
Detak melaju menguraikan tanya pada denting dua gitar, melagukan nada lembut dan berdentam menyeruak malam yang tiba-tiba kelam. Membaur pada nada pentatonik, mesra keduanya. Menguntit iri pada tubuh yang pilu
Riuhnya suara mengunjungi rindu dan angan yang menampik hadir selintas bayang, memudar ditengarai hujan yang berdesah. Lambatpun mengulum jemari bekas percintaan semalam
Di rimbun pohon tanpa ucap janji, menjadikan satu tubuhmu dan tubuhku, menggumamkan ritme alun mengalun. Sajak tak akan indah menggaung di telinga-telinga pecinta. Yang sibuk mengusap airmata karena rindu yang tak juga sampai
Di mana kenangan pada sebait sajak, yang ditulis dulu tentang ketidaktahuan aku pada bulir bulir embun di matamu. Tak pernahkah ada telaga yang menjadi tujuan jatuhmu. Tak ada genangan luka yang menganga dari matamu.
Hanya aku yang mengiris sendiri bola mata hingga berdarahdarah. Untuk menjumput secuil ritme nada selepas senja
*ciyahhhh gara-gara balawan..!
Sby, 19 april 2009
Thursday, April 16, 2009
Mumpung
Mumpung sembuh aku lari-lari sendiri, sambil sibuk cari tali.
bukan buat lompat tali tapi buat gantung diri
Mumpung sehat aku lompat-lompat diantara rindu-rindu yang hilang
bukan untuk main hati tapi untuk sebuah puisi
Mumpung waras tertawalah aku sepuas-puasnya
biar dianggap gila lagi
Nah.. mumpung kumat gila
Yak mari jual kata-kata
Seribu tiga... seribu tiga..
Siapa tega.. siapa tega...
Dijamin lega
16 April 2009
Sembunyi
sembunyi
di balik geretak induk macan
belang-belang....
sembunyi
menutupi telinga, hidung dan mata
tetap saja meng-indera-i
sembunyi
tanyai tubuh sendiri
merasa riuh kebenaran
"Benar yang mana?" rutukku
nyatanya tak ada
lantas sembunyi dari apa
16 april 2008

