Wednesday, October 21, 2009

Kepulangan menyeret jejak

Hari menguzur matahari sinar redup
Jejak berputar di lingkar simpang tujuh
Di mana gang jalan satu arah serupa arteri
Mendenyutkan detak kerinduan yang basah

Tibalah kemalaman kota
Berdenyir silir-silir angin makin melenakan

Tubuhku bayangan semu kehilangan kepak
Sayap berbulu lepas tak meninggi
Disembur wewarna ungu lembut langit

Terbangku bermata sebelah
Tak mampuku tangkap mangsa di balik pepohonan
Ladang padang tak menerang di ketinggian sana

Sungguhkah aku melepas jiwa bebas
Kesejatian mimpi tetaplah hanya coretan harap

Aku menuju kepulangan
Tapi sungguh tak ada pembeda jeda waktu
Sejak kepergian yang memanggul sekarung lelah

Tubuh kota menjadi turbin listrik
Berputar ulang diguyur air-air suling
Roh pinggir kota berbentuk gitar petik
Mendayu lagu sendu senyum garing

Kemalangan atau kenikmatan ini
Merasuk hangat pelukan sang jenaka
Di luaran, jiwa peratap sibuk mencibir
Berdekap damai pada rindu yang lelap

Perbatasan, rindu tabu rayu meragu
Tak ada yang patut di sembunyikan
Perjanjian tetap nyala dirayakan
Dan kepulangan bawa kembali jejak

Perjalanan, 21 Oktober 2009

No comments: