Monday, October 19, 2009

Menisankan cerita yang terluka

Cerita yang sengaja kuberai
Adalah kehendak menuju kebebasan diri

Setibanya aku di kota pertama
Di perjalanan menuju tempat menisankan kisah
Aku semakin tersesat pada warna hijau pekat

Tak ada, tak kutemukan sekat
Antara kenangan dengan tubuhku

Di mana bisa kumakamkan jiwa yang sekarat
Tiap sudut kota itu penuh jejak sajak, syahdu lagu dan lembut laku
Kematian datang tiba-tiba meninggalkan sayat yang dalam
Semakin tak berjarak dan semakin terasa lekat

Kuhirup udara suam bukit padang rumput
Ada yang semakin melumpuh dalam diri
Ingin yang semakin ringkih

Kulanjutkan lagi perjalanan
Di kota beraroma tembakau, hingga lelah makin terendus
Berharap menemukan pohon berkulit lepas
Agar nanti kutambalkan selembar cerita di sana

Payah, jejak itu kembali menguntit
sungguh yang ada hanya baumu
Keluk asap itu merasuk di dada penuh kenang
Aroma tembakau penuhi ruangan

Ketika kau bercumbu dengan kata dan mantra
Aku selalu cemburu pada kalimat kata dan puisi
Walau aku selalu siapkan secangkir seduhan kopi

Rokok dan kopi bagimu adalah bahan bangunan sempurna
Kepul dan keluknya seperti kata yang berputar liar di kepala
Pekat dan pahitnya menjadi tinta yang menjalar di pena
Lancarkan cairan tinta yang kadang laju tersendat

Rindu tabu itu membuai lagi sepi diri
Memburu waktu yang memutar-mutar ragu
Dikuburkan atau biarkan saja rubuh sendiri

Mengabdi pada muka duka yang bersemu kejam


Perjalanan, Oktober 2009

No comments: