Wednesday, November 18, 2009

Di hujan kedua, terburai kekang

Di hujan kedua
Aroma tubuh cumbui aroma tanah

Kusesapi ngilu malam gerah
Bulan terlalu sibuk berbenah

Langit pekat setengah tengadah
Tatapan sinis sepasang mata
Menyelinap di balik tirai jendela

Rerintih hujan,
Ingatkan aku pada ombak matamu
Ketika sisa mabuk tinggal sejengkal.
Di pelataran rumahku, dulu

Jengah berdiam, aku datangi sendiri pagi

Mengadu...
Kencang Berlari...

Tinggalkan dekapan kelam

Mengejar kau di balik pohon jati
Bonggol akar rapat, de javu basah
Sisa hujan di daun rindu yang resah

Pelukan gugurkan sumpah
Memburai ikatan kekang

Catat janji tentang hujan
Agar kau dan aku
Tak lagi tanam bibit bara

: Di sekat-sekat dada

Sby, 18 November 2009

No comments: