Skip to main content

Sebuah Perjanjian

Perjanjian itu bukan antara kau dan aku, tapi aku dan langit
Langit yang menangis diam - diam di balik punggungmu

Tak mampuku tinggikan kepala, tanda tangani perjanjian itu
Mana pantas aku mengaku sederajat dengan luasnya langit
Aku tak lagi bernyali, relakan yang bukan milikku

Di balik tengkukmu ada mendung terbendung
Ia selalu tunduk pada titahmu
Dan ini musimku runtuh di geram gemuruh
Yang tak pernah kau bacai

Maka dengan kesadaran dan kerelaan hati
Aku pasrahkan diri digenggam jejari langit
Entah ini pertanda kalah atau apa.

Tapi sungguh aku tak ada daya
Ketika kau berkali kali kiblatkan kejujuran
Agar aku ingkar pada janji itu
Terpaksa, menindih kepala juga dada

Segala sesuatu harus dikekang keterpaksaan
Tak ada angka bulat untuk sebuah keputusan
Bukankah peperangan ada di mana saja
Bahkan di dalam jasad dan juga jiwa

Bisakah sedikit kau pahami, langit
Sebutmu penjaga gerbang surga
Dan aku hanya hujan gerimis kecil
Yang sejenak menggenang di dada

Mungkin tiada harap, selain mimpi yang meluap
Perjanjian telah di buat, bebat diri pada jarak
Inikah bermuara takdir perjumpaan?

Surabaya, Okt 2009

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Senja

Berkata senja pada pagi
"Aku lelah menjadi sesudahmu"
Dengan tangisnya yang luruh
"Aku ingin menjadi kamu"

Waktu lama memajangmu
Apalah senja
Tiba sebentar lalu pergi

"Tapi banyak yang menunggu senja" hiburnya
Pagi tersenyum,
"Engkau mahal katanya"


8nov06

Wi.. Semua tentang sebuah Tanda

Wi..
aku biarkan jengkal jarimu
hitungi bias luka sukaku

Wi..
Ada juga sisa jejak darah
petualang bengal
juga suara parau bibir resah

Aku biarkan kau mandikan tubuhku
dengan uap aroma malam
Hingga aku jenak memuara
di matamu yang sepi

Wi..
ada detak berlarian di halaman rumah tepiku
ketika kau melempar ranting pohon mangga

Dan keesokan pagi kutemukan tetes embun
                                      berwarna biru rindu
Di jendela rumahku

secuil tandaMu kah itu?