Sunday, October 26, 2008

Hujan Malam Ini

Hujan…
Tiba-tiba berhenti
Aku sudah bilang jangan tiba-tiba

Hujan…
Aku memintamu simpan saja diam
Untukku, sementara

Dan riuhmu semakin lantang
Ranting lentik gemulai penari
Mengetuk-ngetuk jendela
Sembari menghela angin

Sampaikan diam yang teramat ingin
Memelukku di dalam dingin

Hujan…
Kau sengaja mengirimnya?

Bekulah aku dan diam
Tembok kaca es menebal, rapuh
Dalam bayangnya lamat kudengar
"Aku pamit"

Matapun dihampiri basah
: Hujan, aku tak punya pilihan

Macul, Okt-Nov 2008

2 comments:

Penyair Gila said...

Ada orang yang membenci hujan tapi ada juga hujan dirindukan.Membaca puisimu "Hujan Malam Ini" kau sepertinya memerlukan "hujan". Hujan mungkin bagimu penuh riwayat atau ada yang kauasakan di balik gemercik hujan.Tapi itulah mengapa kau begitu kesal mengapa hujan tiba-tiba berhenti.Saranku tak usah risau kepergian "hujan". Sebab kau dapat membuat hujan. Yakni "hujan airmata".

crystalistgita said...

mengapa dekat sekali Hujan dan Air mata? apakah karena sama-sama air yang turun.
apa sebabnya? akh.. kenangan itu mengapa tentang hujan. sakitkupun karena Hujan