Tuesday, February 19, 2008

Ketika Berkelana dengan Delman

:Pakcik Achmad


Lalu aku terburu menarik tali kendali

Karena delman laju teramat kencang

Sejenak memandang pekarangan sepi

Yang berjuntai akar rumbai puisi


Di sana seorang bapak tua dengan tubuh mungil

Dengan otot otot kaku dan mata yang binar

Memanggul pupuk, menjinjing ember berisi air


Mengerjap mata memainkan kata

Di rumahnya berpunggung landai

Aku sekedar menapak sepasang jejak


Sedangkan kudaku berteduh

Dengan kekang yang diikat pada pohon randu

Sembari menikmati suguhan rumput


Rupanya pesta meriah akan berlangsung

Di hari yang mulai senja

Tikar anyaman bambu tergelar

Bergambar potongan kue dengan cherry di atasnya


Ia lalu duduk bersila melanjutkan memilin akar

Untuk dijadikan tali ikat penguat rumah

Dan aku asyik menghitung berapa lembar uban di kepalanya


Pesta itupun riuh dalam dada walau sepi tanpa musik

Hanya gemerisik angin dan dengung jangkrik


19 Februari 2008


No comments: