Mungkin kau adalah segelintir pejalan
Yang memuja kabut nan pekat
Menjarah rimba di hitamnya malam
Tubuh khas berhias siluet
Terbungkus rindu
Suara mendung yang menggelegar
Adalah pertanda berliaran
Lembar demi lembar kenangan
Diberinya waktu meneduh
Berteduh? dan aku memanggulnya
Pada kesekian cerita yang lewat
Lelaki pembelah bulan
Dengan tajamnya sepi
Di bawah ketiak pepohonan
Lantas kau menyusu pada ibu musim
Sungguh, ternyata mengeja kau
Tak perlu serumit mengeja puisi
:Lelaki dalam Tempurung Bulan
Surabaya, 10 April 2011
No comments:
Post a Comment