Skip to main content

Sampur Bapak


:Budi Palopo

Dalam gendongan langit
Aku meringkuk dalam jaritmu

Aku tak lagi takut membidik titik jauhMu
Karena Ia tak peduli suara parau tangis

Timang aku, si anak angin
Menyusu pada merah darah matahari
Meracau di tengah amuk pusaran bumi
Menari menggenggam selendang wungu

Tarian katamu, seperti sesumbar
Yang diterbangkan ke atas langit

Timang aku, pak
Tambatkan sampurmu, padaku
Agar kematian tak lagi membauiku

Agar sengau - lenguh mencipta
Sajak buta-tuli

Hampir Shubuh, 18 Juli 2010

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Senja

Berkata senja pada pagi
"Aku lelah menjadi sesudahmu"
Dengan tangisnya yang luruh
"Aku ingin menjadi kamu"

Waktu lama memajangmu
Apalah senja
Tiba sebentar lalu pergi

"Tapi banyak yang menunggu senja" hiburnya
Pagi tersenyum,
"Engkau mahal katanya"


8nov06

Wi.. Semua tentang sebuah Tanda

Wi..
aku biarkan jengkal jarimu
hitungi bias luka sukaku

Wi..
Ada juga sisa jejak darah
petualang bengal
juga suara parau bibir resah

Aku biarkan kau mandikan tubuhku
dengan uap aroma malam
Hingga aku jenak memuara
di matamu yang sepi

Wi..
ada detak berlarian di halaman rumah tepiku
ketika kau melempar ranting pohon mangga

Dan keesokan pagi kutemukan tetes embun
                                      berwarna biru rindu
Di jendela rumahku

secuil tandaMu kah itu?