Skip to main content

Siluet

Mungkin kau adalah segelintir pejalan
Yang memuja kabut nan pekat
Menjarah rimba di hitamnya malam

Tubuh khas berhias siluet
Terbungkus rindu

Suara mendung yang menggelegar
Adalah pertanda berliaran

Lembar demi lembar kenangan
Diberinya waktu meneduh

Berteduh? dan aku memanggulnya
Pada kesekian cerita yang lewat

Lelaki pembelah bulan
Dengan tajamnya sepi

Di bawah ketiak pepohonan
Lantas kau menyusu pada ibu musim

Sungguh, ternyata mengeja kau
Tak perlu serumit mengeja puisi

:Lelaki dalam Tempurung Bulan

Surabaya, 10 April 2011

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Senja

Berkata senja pada pagi
"Aku lelah menjadi sesudahmu"
Dengan tangisnya yang luruh
"Aku ingin menjadi kamu"

Waktu lama memajangmu
Apalah senja
Tiba sebentar lalu pergi

"Tapi banyak yang menunggu senja" hiburnya
Pagi tersenyum,
"Engkau mahal katanya"


8nov06

Wi.. Semua tentang sebuah Tanda

Wi..
aku biarkan jengkal jarimu
hitungi bias luka sukaku

Wi..
Ada juga sisa jejak darah
petualang bengal
juga suara parau bibir resah

Aku biarkan kau mandikan tubuhku
dengan uap aroma malam
Hingga aku jenak memuara
di matamu yang sepi

Wi..
ada detak berlarian di halaman rumah tepiku
ketika kau melempar ranting pohon mangga

Dan keesokan pagi kutemukan tetes embun
                                      berwarna biru rindu
Di jendela rumahku

secuil tandaMu kah itu?