Tuesday, November 28, 2006

Senyap menunggu dikantin

Disini ribut tak ada celah
Riuh jenaka palsu
Asing serasa penuh
Menawarkan senyap hampa

Jiwa jiwa lelah
Terkapar dalam kepalsuan
Menuntut canda mengurung luka

Sekedar bercengkrama
Melepas senja muram
Ditumpukan lelah kata

Salemba, 26nov06

2 comments:

F!L@NTROPY 86 said...

( 385 Menit Tenggelamlah Sudah )
Sajak: Wafie el-Luthfy


Kembali kuterbangun seperti tak ada impian dan harapan sekalipun. Bias mentari yang cerah di pagi hari, tidak pernah ku nikmati bersama kicau burung yang bersenandung syahdu menyambut fajar membawa pagi.

Syetan begitu picik mengoda hatiku untuk selalu tenggelam dalam ketakberdayaan. Keangkuhan diri terus melaju bersama petang, menyusuri pekat dan sepi di malam sunyi. Pagipun terlewati dengan setumpuk dosa yang berkelibat dalam ruang hampa.

Ya Allah...
Kembali kuterhanyut dalam hembusan mesra Syetan.
Selembar kewajiban dan setumpuk dosa
Berbaur menjadi satu gelas air keruh
Yang harus aku sruput setiap kehausan tenggerokan.
Lidah yang tak bertulang menjadi rayu hati
Untuk terus mencicipi daging busuk itu
Agar asa tak mampu menolak rasa
Yang datang bersama gumpalan dosa
Dalam ujung lidah.

Ya Allah...
Tenggelamlah sudah
Kewajiban-kewajiabanku kepadaMu,
Semuanya telah aku lumat
Hanya dengan hitungan menit mengeja detik.
Aku telah berdosa kepadaMu, Ya Robb...


" Patutkah Aku Mengucap MAAF kepadaMu "
Rabea al-Adawea, 28 Nov '06

Anonymous said...

puisinya Wafie el-Luthfy isinya bagus, tapi penulisannya garing, seperti nulis diary aja, asal coret lalu kabur