Saturday, April 17, 2010

Mata Muara Darah, Pinggul Merah Senja

Maka debu adalah ayat yang terlanjur berceceran
Pada tangkup senyum, terselip di lipatan wajah
Kau pemanggul dongeng malam

Kisahmu adalah kerjap mata muara darah
Yang mengalirkan sungai sunyi
Juga keruh telaga di dada

Kau tahu...
Akulah pejalan yang menggandeng mendung
Tinggalkan jejak-jejak angin

Dan lenggok pinggul merah senjaku
Panggil petang, menghela resah terang

Bersajak tentang pencari ujung cerita
Atau akhir sujud kembang rumput liar

Akh...
Mata muara darah menelikung jarak
Ikatkan selendang hitam panjang
Pada pinggul merah senja

Sby, April 2010

1 comment:

Ardy Kresna Crenata said...

kau tahu..
akulah pejalan yang menggandeng mendung

asik juga kalimat ini... ^^

kunjungi blog saya donk di http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/

ada puisi, cerpen, dan novel
siapa tahu suka
hehehe