Lelaki Kecil dengan Punggung Kura - Kura

Lelaki kecil berjalan meniti tepi jalan sambil menggandeng bapak

Ingus yang naik turun ia biarkan sambil mengingat hitungan mundur

Tangan lainnya sedang menggenggam pelangi pesanan ibunya

Sambil bermain ia seringkali bertanya "Mau kemana bapak?"


Lelaki kecil, hendak memulai perjalanan barunya

Di punggungnya ada tempurung besar

Ia simpan kenangan tentang ibu di sana

Ia biarkan punggungnya nanti akan diusap ibu dari belakang


Tempurung besar di punggunnya ada semacam televisi

Ia bisa memutar kenangan ketika lahir dengan susah

Karena punggungnya yang bengkok

Karena tubuh mungilnya terlalu asik meringkuk di dalam perut ibu

Ia juga bisa melihat ketika ia dilemparkan ke langit

Bapak dan ibu bergandengan dengan bahagia



Tempurung besar di punggungnya menyimpan alat telekomunikasi canggih

Walau Ia tak berbicara, tapi ia sampaikan pesan kepada bahagia di masa lalu

Ia suka bernyanyi dalam bisu, membaca dalam diam


Lelaki kecil berpunggung Kura Kura

Berlari kecil kesana kemari, menari bersama angin

Menangis lebih sering

Tapi Ia tak mau lagi bertanya 

:"Aku Mau Kemana, Bapak?"


Sby, 22 Mei 2021

 

Janji di Selembar Tissue

Kau sempat tuliskan janji 
di selembar tissue 
Lantas diselipkan 
di bawah gelas minumanku 

Sebelum musik terakhir dimainkan 
langkah pergimu begitu tergesa
 
Basah.. tinta memudar 

Dadamu serupa mendung 
Matamu dirubung kalut 

Apa yang bisa ku baca 
selain gurat punggungmu 

Dan sisa tangis yang menggantung 
di ujung-helai rambutku 
Di lembar tissue yang membubur 

: tersisa aku saja 


 Sby, 8 Juli 2009

Ketika Kita Tak lagi Kecil dan Lucu

: Doni & Cessa

Seberapa sering kau pulang 
Menggedor pintu rumah 
Bermanja pada belaian Ibu 

Akh… adikku sayang 
Rumah seperti penampungan sepi 
Tidak lagi ada peluk rindu 

Kita terlalu sibuk berlarian 
Jendela terbuka 
Angin menyusup begitu dingin 
Merasuk diam-diam di dada Ayah Ibu 

Mengapa kau sibuk menangis di depan pintu 
Tangan keriput mereka, ingin usap airmatamu 
Juga ingin menggendongmu, 
Dengan selendang batik lapuk 

Masuklah…. 
Pada album potret kenangan 
Masih ingat dulu 
Kau berlarian di taman kota kecil 
Sesekali berhenti minta disuap 
Nasi berlauk telur juga kecap 
Coba tengok sejajar nama panjang 
Yang bangga kita pamerkan 

Ada do'a terselip di sana 
Yang terus berdengung sampai 
Kita tak lagi menjadi bocah kecil 

Apakah ini cukup? 
Dan aku menulis ini 
Sembari mengusap perih pipi 
Ada kenangan kecil 
Yang mungkin lupa kau ingat lagi 

Surabaya, 9 Januari 2010

Dunia Bermain

Aku mencongkel bola mata menjadi sebutir kelereng

Kemudian aku gelindingkan di atas pusar ibu


"Ibu, bermainlah sebentar bersamaku"

Kemudian ibu, menarik sebelah telinganya

menjadikan selembar uang-uangan 

kemudian uang itu ditukar dengan sepatu Ayah


Sepatu ayah, aku sembunyikan di dalam lemari es

"Ayah, temani aku mengerjakan tugas sekolah"

Ayah melepas telapak kakinya

kemudian dijadikannya perahu kecil


Telinga ibu hilang satu, tapi bisa mendengar isakku

Telapak kaki ayah tak bisa menjejak, tapi bisa mengejarku

Aku bermain menuju ke pantai, menuju laut menaiki perahu


Kata kata biasa bermain sendiri, sesekali bermain dengan aku atau kau

Dunia kata adalah taman bermain, hanya saja terlalu serius


Surabaya, 21 Des 2020


 

 


Seharusnya

Kepada Cinta

Yang kau gantungkan dipundakmu

Mengapa tak kau turunkan Sejenak


"Bukankah arus sungai tak pernah berhenti berlari"

Ucapmu pada cuaca yang bisu


Maka begitulah derita, yang tak bisa dihela

Bukan hanya debu sementara

Ia akan sertai kemana saja nafasmu mengudara


25 Agustus 2020

Selalu ada jalan menuju pulang

Berliatan jejak menuju entah
Tersesat di ruang bayang bayang
Bersembunyi dari terik
Kemudian berlari sambil mencaci

Jalanan besar dengan beriburibu mata kaki
Raksasa besi beroda-roda besar melintasi
Tak ada petunjuk kembali pulang
Hanya papan petunjuk yang begitu kusam

Masa berlalu sedemikan larut
Lampu jalan setia di sepanjang perjalanan
Masih tak juga bertemu penunjuk pulang
Sedangkan angan begitu letih

Diam menunggu dipersimpangan
Ke arah kiri, rapat
Ke arah kanan, padat


Kebetulan tak datang berkali-kali
Klakson mendera dari kejauhan
Membawa lari banyak kenangan
Hingga tercecer di jalanan
Ikut berlari hingga ku temukan jejak

:Menuju arah pulang

Surabaya, 29 sept 2017

....................

Bagaimana bisa aku bercakap-cakap
sedangkan ruangan ini begitu kecil
dan kau melayang-layang di luar sana

Bagaimana aku membagi cerita
Sedangkan kau bersedekap
tersenyum dan tetap berdiam

Bagaimana berguru, bertanya, atau sekedar bersapa
Karena aku hanya punya secuil kenangan
Lelucon yang giris, ilmu yang tipis
Bagaimana aku menahan tangis
Perjalananmu sudah lama terhenti
Dan apa yang kau sisakan
Tak juga menjadi jalanku

Sby, 30 Mei 2017
utk Guru, Kawan, Kakak, yang tak pernah lelah berada di medan laga.
30 Mei 2017, alm. Fahrudin Nasrulloh

Wi.. Semua tentang sebuah Tanda

Wi..
aku biarkan jengkal jarimu
hitungi bias luka sukaku

Wi..
Ada juga sisa jejak darah
petualang bengal
juga suara parau bibir resah

Aku biarkan kau mandikan tubuhku
dengan uap aroma malam
Hingga aku jenak memuara
di matamu yang sepi

Wi..
ada detak berlarian di halaman rumah tepiku
ketika kau melempar ranting pohon mangga

Dan keesokan pagi kutemukan tetes embun
                                      berwarna biru rindu
Di jendela rumahku

secuil tandaMu kah itu?

Kupu-kupu

Yang dinyanyikan malam, penat
Yang disimpan suram bulan, resah
Satu luka, seribu cerita dan empat cangkir kopi

Memadu gelak dan kecup kenang
Cerita tentang masa lalu, yang tak berkesudah

Kupu-kupu merobek kepompong
ia jatuh terlelap, rebahkan sayap yang basah

Apa yang kau simpan di nada minormu?

sby on the road, 8 Juni 2013

Di Suatu Malam

Kusesap kembali candu malam
di antara deru sepi, yang lama menepi

Ada sapa rindu, perempuan bersuara perdu
menelusuri kabar dari sisa debu di helai daun kering

Sisa riuh, merendah di grobak warung kopi
lelaki tua menyibak trotoar, menghentikan tawa sendawa
menatap dengan wajah tertunduk begitu dalam

Dusta - dusta lusuh di tubuhnya, melekat
seperti aroma apek di kemeja berwarna kusam
Ada cerita letih di kehidupannya

Juga ada siluet lelaki terbelah bulan
Apa kabarmu, Mei?

Sby on the road, 8 Juni 2013

Tak.. Tak.. Tak.. Tak..

Kepada Sahabat Baikku
Fahrudin Nasrulloh

Tak.. Tak.. Tak... Diam
Terbata Kata
Dalam isak yang sepi

Aku digulung kabar mendung
Ditengah detik yang berlarian
Ditengah kabar

Tak.. Tak.. Tak.. Selesai

Tak.. Tak.. Tak... Sempat
Maaf  tersampaikan
Salam terlempar jauh

Enggan, tinggal tersumpah serapah
Pergimu, meninggalkan barisan kalimat
Tak sempat jua ku tengok saat terakhir

Penyesalan menjeda
Tak.. Tak.. Tak...
Tak.. Tidak.. Tak.. Tidak..

Memungkiri adalah sia-sia
Pesanmu akan tetap terkenang
"Menulislah, walau hanya sebait"

Tak.. Tak.. Tak...
Tak ku hirau saat itu
Sungguh aku enggan berjanji padamu, kawan.

Tak ada satu kalimat terselesaikan untukmu
Tak.. Tak.. Tak.. Tidak.. Tak.. Tak... Tidak..

Hanya keikhlasan yang sanggup kupersembahkan
Untukmu


Surabaya, Juni 2013 




Waktu Berlibur



Gunung terpecah, dadanya terpanggang
Yang Ia persenjatai hanya kepala dengan sorban abu-abu
Sedangkan dadanya kering, kosong melompong

Ini hari, bendera meliuk setengah enggan
Angin sejenak diam, memata-matai sore yang hendak berpergian
Perempuan mengendarai selendang, serupa bidadari

Angka di baris terakhir didinding lembab itu, Merah.
Waktunya menulis sebuah catatan perjalanan
dan membujuk angin agar tidak mengajak hujan

Ia lelaki, menunggu tubuh perempuan.
Di depan pintu pabrik sepatu yang lama kosong
Dipertigaan lampu merah

Debu dan rok merah mini yang terusil siul
Lelaki memain-mainkan roda belati
Mendorong semesta, berdo’a
Jatuhkan ia…
Jatuhkan ia…

Perempuan pemanggul Bumi
Seharusnya pergi berlibur, ketika waktu setengah berlari

Kenapa kau masih saja sibuk?

Sby, 12 Agustus 2012

(Sedang) Tidak Menulis

Aku tidak Menulis
Bukan karena aku kehilangan kata-kata

Aku tidak Menulis
Bukan karena aku bosan melukis di atas kanvas

Aku tidak Menulis
Bukan tidak ada lagi berita yang ingin ku ceritakan

Aku tidak Menulis
Bukan karena kehabisan tinta atau kehilangan pena

Aku... Sedang... Tidak.. Ingin... Menulis
HANYA karena

Tanda dan Makna
kabur


Tempat kerja, 27 Februari 2012

Perempuan dengan Punggung yang Menunggu

:Dua perempuan

Ini tak sekedar tentang arus kali
Yang diam ditelan gejolak

Juga bukan cerita tentang kail
Menjuntai-juntai di jembatan rolak

Ini hanya tepian seperti itu, pasang surut yang hiruk pikuk
Yang sesekali sunyi, sajak ini bukan sekedar tentang peluk

Ini hanya sepahat cerita
Tentang perempuan dengan punggung, menunggu
Tentang luka yang terkadang meraung
Juga sore gagu yang dihantam berkali-kali

: Dengan rasa rindu

Surabaya bisu, 13 september 2011

Menyulut Sahut

Batu-batu kecil, biarkan tubuhku menyusup menjadi udara
Udara melayang-awang biarkan menjadi embun-embun basah
Embun biarkan aku menyusup diantara bulir yang gemeretak

: Dingin

Dingin suarakan gigil di gendang telingaku
Telinga biarkan terdengar

yang kau dengar
yang pergi menjauh

: di titik- titik Riak

Surabaya, Feb - Agust 2011

Terkejar atau Sejajar

Selalu ada yang ingin sejajar
Curang, kau bungkam waktu
Mengunduh bingar dari tiap detik

Sudahkah, mendengar yang ingin kau dengar

Jejak- sejenjang di robek prasangka
Tak selalu, kesepian hanya milik luka

Kau dan ia saling mengejar
Berlarian ke kanan memotong arah lajumu
Kau lari ke kiri membuat silangan garis

Bertemu pada persimpangan

Brakkkk....
Tubuh bertemu lumpuh
Saling menumpu, rubuh

Surabaya, Okt 2009 - Agust 2011

Sebuah Kabar Rahasia

Kenapa berahasia, jika itu hanya sia-sia
Menyimpan simpul hingga berkarat usia

Tangisi cerita yang kau anggap sepi
Padahal diubun-ubunmu, memutar hingar musik

Apa yang kau dengar?
Jika luka, amarah, tawa, dan sekedar rasa senyap
Kau bawa dalam tidurmu

Kau tak pernah tahu
Kenapa tanda tanya selalu membawa titik
Kau tak pernah tahu
Kenapa hitungan sajak-matematik begitu rumit

Bukankah udara begitu pasrah menghabisi diri
Di liarnya arus, di rodaroda mesin, di selasela nasib,

Bahkan diam-diam menyusup di liang telinga.
Menjadi bisik yang sepi,
Yang tak terdengar sesiapa atau apa yang lain.

Tapi ia tak sekedar menjadi bisik yang berisik

Sungguh, kerinduan datang
Hanya sewaktu-waktu

Kalau begitu biarkan saja pertanda menjadi
Rahasia di halaman berikutnya

Surabaya, Juli – Agust 2011

Pelajaran Kesekian

Belajar menjadi batu
Berguru pada musim

Mencatat sepi yang telah bernama
: Kau

Pada lipatan halaman
tak terbaca
tak teraba
tak tereja

Waktu membiru, tundukkan kertas juga pena
Seumpama nada pada kata tersusun

Alunkan suara paling hening, paling bening
Dari kesenyapan di sebuah kota

Surabaya, waktu entah 2010-2011

Sampur Bapak


:Budi Palopo

Dalam gendongan langit
Aku meringkuk dalam jaritmu

Aku tak lagi takut membidik titik jauhMu
Karena Ia tak peduli suara parau tangis

Timang aku, si anak angin
Menyusu pada merah darah matahari
Meracau di tengah amuk pusaran bumi
Menari menggenggam selendang wungu

Tarian katamu, seperti sesumbar
Yang diterbangkan ke atas langit

Timang aku, pak
Tambatkan sampurmu, padaku
Agar kematian tak lagi membauiku

Agar sengau - lenguh mencipta
Sajak buta-tuli

Hampir Shubuh, 18 Juli 2010

Di Sebuah Mata

: Maksim-Hana's eyes


Kau biarkan nada-nada itu
Berceceran di partitur-partitur tua

Nada hening dari sepasang mata
Puzzle berantakan bergambar d-u-k-a

Tentang sebuah kata miskin
Tentang sebuah kata sakit

Tentang sebuah damai, yang alpha
Tentang nikmat surga, yang sengaja dilupa

Lagu itu berkumandang
Memukul perlahan
Di dada baja pemuja


Tulis saja dengan pedang
Sebagai persembahan

Terima Kasih, Itu Saja

Surabaya, 28 Juli 2011

Lelaki Kecil dengan Punggung Kura - Kura

Lelaki kecil berjalan meniti tepi jalan sambil menggandeng bapak Ingus yang naik turun ia biarkan sambil mengingat hitungan mundur Tangan la...