"Terbata berkata-kata, mengucapkan syukurpun dieja. Menggagap kata, mulut kelu hingga mata hampir saja enggan berkedip. Segala proses beku membatu, di bening abjad pun sering mengeluh."
Senyap menunggu dikantin
Disini ribut tak ada celah Riuh jenaka palsu Asing serasa penuh Menawarkan senyap hampa
Jiwa jiwa lelah Terkapar dalam kepalsuan Menuntut canda mengurung luka
Sekedar bercengkrama Melepas senja muram Ditumpukan lelah kata
Salemba, 26nov06
2 comments:
Anonymous
said...
( 385 Menit Tenggelamlah Sudah ) Sajak: Wafie el-Luthfy
Kembali kuterbangun seperti tak ada impian dan harapan sekalipun. Bias mentari yang cerah di pagi hari, tidak pernah ku nikmati bersama kicau burung yang bersenandung syahdu menyambut fajar membawa pagi.
Syetan begitu picik mengoda hatiku untuk selalu tenggelam dalam ketakberdayaan. Keangkuhan diri terus melaju bersama petang, menyusuri pekat dan sepi di malam sunyi. Pagipun terlewati dengan setumpuk dosa yang berkelibat dalam ruang hampa.
Ya Allah... Kembali kuterhanyut dalam hembusan mesra Syetan. Selembar kewajiban dan setumpuk dosa Berbaur menjadi satu gelas air keruh Yang harus aku sruput setiap kehausan tenggerokan. Lidah yang tak bertulang menjadi rayu hati Untuk terus mencicipi daging busuk itu Agar asa tak mampu menolak rasa Yang datang bersama gumpalan dosa Dalam ujung lidah.
Ya Allah... Tenggelamlah sudah Kewajiban-kewajiabanku kepadaMu, Semuanya telah aku lumat Hanya dengan hitungan menit mengeja detik. Aku telah berdosa kepadaMu, Ya Robb...
" Patutkah Aku Mengucap MAAF kepadaMu " Rabea al-Adawea, 28 Nov '06
2 comments:
( 385 Menit Tenggelamlah Sudah )
Sajak: Wafie el-Luthfy
Kembali kuterbangun seperti tak ada impian dan harapan sekalipun. Bias mentari yang cerah di pagi hari, tidak pernah ku nikmati bersama kicau burung yang bersenandung syahdu menyambut fajar membawa pagi.
Syetan begitu picik mengoda hatiku untuk selalu tenggelam dalam ketakberdayaan. Keangkuhan diri terus melaju bersama petang, menyusuri pekat dan sepi di malam sunyi. Pagipun terlewati dengan setumpuk dosa yang berkelibat dalam ruang hampa.
Ya Allah...
Kembali kuterhanyut dalam hembusan mesra Syetan.
Selembar kewajiban dan setumpuk dosa
Berbaur menjadi satu gelas air keruh
Yang harus aku sruput setiap kehausan tenggerokan.
Lidah yang tak bertulang menjadi rayu hati
Untuk terus mencicipi daging busuk itu
Agar asa tak mampu menolak rasa
Yang datang bersama gumpalan dosa
Dalam ujung lidah.
Ya Allah...
Tenggelamlah sudah
Kewajiban-kewajiabanku kepadaMu,
Semuanya telah aku lumat
Hanya dengan hitungan menit mengeja detik.
Aku telah berdosa kepadaMu, Ya Robb...
" Patutkah Aku Mengucap MAAF kepadaMu "
Rabea al-Adawea, 28 Nov '06
puisinya Wafie el-Luthfy isinya bagus, tapi penulisannya garing, seperti nulis diary aja, asal coret lalu kabur
Post a Comment